Tentu khawatir rasanya, ketika anak yang genap berusia dua tahun tak kunjung bisa merangkai kalimat. Padahal balita lain yang berusia lebih muda tampak lancar dan tidak kesulitan berbicara.

Apa saja tanda-tanda anak mengalami speech delay? Kita perlu mewaspadai jika anak lebih individual dan tidak mau menerima perintah, hal tersebut bisa dikarenakan keseimbangan dan motorik kasar yang kurang terlatih, serta kurangnya stimulus untuk berbicara.

Menurut dr. Anna Tjandra, Sp. A(K)., speech delay merupakan kasus keterlambatan berbicara pada anak. Dikatakan terlambat apabila kemampuan perkembangan anak memiliki keterlambatan dengan rentang lebih dari tiga bulan dari perkembangan yang seharusnya.

Normalnya perkembangan kemampuan berbicara anak dimulai sejak usia tiga bulan dengan mengeluarkan suara. Umur empat bulan, anak biasanya mulai bubbling. Lalu, menjelang sebelas bulan biasanya dia dapat menirukan kata yang persis diucapkan orang sekitarnya. Baru di usia 12 bulan anak mulai mengucapkan sekaligus mengerti arti kata. Sementara itu, kemampuan mengumpukan kosa kata dan merangkai kalimat dimulai saat anak menginjak dua tahun. Bila perkembangan si anak berbeda jauh dengan tahap-tahap ini, bisa jadi dia mengalami speech delay.

Speech delay pada anak tidak bisa dianggap enteng ya Mom. Saat ini kasus speech delay semakin bertambah tiap tahunnya. Bahkan, menurut situs pendidikan Sekolah123, sekitar 5-10 % anak usia sekolah saat ini mengalami keterlambatan berbicara. Kenapa kasus speech delay semakin berkembang? Yuk Mom kita simak beberapa penyebab speech delay.

Saat Si Kecil menunjukkan keterlambatan tahap-tahap perkembangan berbicara, ada baiknya langkah pertama yang diambil adalah memeriksakan ke dokter anak. Bisa jadi Si Kecil terlambat berbicara karena memiliki masalah dengan pendengaran, kerusakan pada otak, keterlambatan perkembangan psikomotor umum, down syndrome, kelainan saraf sensorik untuk pendengaran, atau autis. Faktor lain bisa juga disebabkan oleh adanya kelainan organ bicara.

Namun selain gangguan secara fisik, psikolog Dr. Rose Mini, M.Psi., menjelaskan minimnya komunikasi antara anak dan orangtua merupakan penyebab utama speech delay yang dialami anak-anak di perkotaan. Tidak mudah memang membiasakan diri menjalin komunikasi dengan anak di tengah padatnya aktivitas seharian. Perempuan yang akrab disapa Bunda Romi ini menyebutkan adanya sejumlah hambatan orangua dalam menjalin komunikasi. Mulai dari waktu yang terbatas untuk berinteraksi dengan anak, kurangnya memerhatikan karakteristik perkembangan anak, tidak adanya kedekatan/bonding, terbatasnya kemampuan berbicara anak, sampai orangtua yang lebih memperhatikan kebutuhannya daripada kebutuhan anak.

Kesibukan pekerjaan orangtua terkadang menjadi kendala terbesar untuk selalu bisa intens berkomunikasi dengan sang buah hati. Meskipun anak dititipkan ke rumah kakek ataupun neneknya, belum tentu bisa memberikan perhatian yang lebih layaknya orangtua ke anak. Kita tidak bisa menyalahkan jika cucu yang aktif ini diberikan iPad atau disetelkan TV oleh sang nenek. Alih-alih berharap agar si anak menjadi lebih tenang dan tidak rewel, namun hal ini justru tidak memberikan stimulus bagi sang anak. Anak yang kurang diberi stimulus akan memiliki komunikasi yang minim karena faktor orang-orang sekitar yang terlalu memanjakannya dengan gadget. Apalagi jika sang anak adalah cucu pertama, dimana “everybody treats him like a prince” akan berlaku. Ketika sang anak rewel dan merengek, tanpa diajak berbicara semua orang akan berusaha memenuhi kemauan si anak. Hal ini juga menjadi penyebab minimnya komunikasi orang-orang disekitarnya.

Lalu, bagaimana menciptakan komunikasi efektif dengan anak agar terhindar dari kasus speech delay? Bunda Romi menyarankan agar saat berkomunikasi dengan anak, orangtua memperhatikan perkembangan komunikasi anak. “Misalnya kalau anak tersebut berusia tiga sampai empat tahun, jangan ditanya dengan topik terlalu lebar karena cara anak kecil bercerita itu loncat-loncat.

Selain itu, Bunda Romi juga memberikan beberapa tips untuk menciptakan komunikasi efektif antara anak dengan orangtua. Seperti menyesuaikan bahasa yang digunakan dengan usia perkembangan anak, yaitu memakai kata-kata yang sederhana saat berbicara dengan anak. Selain itu sebagai orangtua, belajar mendengarkan dan memberikan kesempatan anak bercerita dengan bahasanya merupakan hal yang wajib dilakukan. Jangan lupa berikan pujian, penghargaan, dan luangkan waktu bermain untuk merangsang anak berbicara dan mengekpresikan diri. Membacakan cerita, menurut Bunda Romi juga membantu menambah kosa kata anak.

Yang terakhir dan paling penting, jauhkan anak dari gadget. Karena gadget yang terlalu canggih seringkali membuat anak asyik sendiri dan tidak mau berkomunikasi dengan sekitar.

Bagaimana jika anak sudah terlanjut mengalami speech delay? Jangan khawatir Mom, hal yang perlu dilakukan mengajak anak untuk terapi bicara. Saat dirumah seminiminal mungkin tidak menggunakan TV atau iPad, coba alihkan perhatian anak dengan mengajak sang anak untuk mengobrol dan bercerita. Ajaklah anak untuk mengobrol di depan kaca, Supaya dia bisa melihat gerak mulut dari kata-kata sederhana yang saya ucapkan. Biasakan anak untuk mengkomunikasikan apa yang dia inginkan. Ketika anak merengek saat meminta sesuatu, ada baiknya jangan langsung dituruti. Rangsanglah anak untuk ia berbicara dan mengkomunikasikan apa yang ia inginkan. Seperti, jika sang anak minta menyalakan lampu dengan cara menunjuk, jangan langsung dinyalakan. Perkenalkan jika benda tersebut bernama lampu, ajarkan kalimat perintah untuk menyalakan lampu. Sampai ia bisa membuat kalimat perintah sendiri ketika ingin menyalakan lampu. Tidak ada salahnya juga rutin membacakan buku dongeng ketika anak mau tidur, selain menstimulus anak untuk merespon ia berbicara, hal ini akan memperkaya kosakata anak sehingga akan meningkatkan kemampuan bicara anak.

Sesibuk apapun aktivitas orangtua, komunikasi intens dengan anak harus dilakukan. Jangan sampai resiko akhir yang dialami anak karena padatnya aktivitas orangtua, seperti delay speech membuat kita menyesal di kemudian hari.

Source: Fimela Family

(0)