anak corat-coret tembok
anak corat-coret tembok

Panduan tenang untuk Mom & Dad agar kreativitas anak tetap tumbuh tanpa bikin rumah jadi korban

Fenomena anak corat-coret tembok itu umum banget. Hampir semua anak yang sedang aktif mengeksplorasi dunia visual pernah melakukannya. Tapi tetap saja, saat melihat dinding penuh coretan, wajar kalau orang tua langsung bingung: ini harus dimarahi atau dibiarkan?

Jawaban paling aman: jangan dua-duanya secara ekstrem.

Di artikel ini, kita bahas secara realistis:

  • kenapa anak suka corat-coret tembok
  • kesalahan yang sering dilakukan orang tua
  • cara menyikapi dengan tepat
  • bagaimana mengarahkan kreativitas anak secara sehat

Pendekatan ini sejalan dengan metode belajar di Eko Nugroho Art Class, yang fokus pada proses, bukan tekanan.


Kenapa Anak Suka Corat-coret Tembok?

Buat anak, tembok itu bukan “barang mahal”. Tembok adalah:

  • bidang luas
  • kosong
  • sejajar dengan tinggi badan
  • gampang diakses kapan saja

Beberapa alasan utamanya:

1. Anak Belum Paham Aturan Media

Anak usia dini belum otomatis tahu:

  • kertas itu untuk gambar
  • tembok tidak

Ini bukan pembangkangan. Ini tahap belajar batasan.


2. Dorongan Motorik dan Ekspresi

Menggambar di bidang besar melatih:

  • gerakan tangan
  • koordinasi
  • keberanian berekspresi

Anak menikmati prosesnya, bukan hasilnya.


3. Anak Lagi Mengeksplorasi Dunia

Anak belajar lewat mencoba.
Kalau belum diarahkan, tembok jadi kanvas pertama yang “masuk akal” menurut mereka.


Kesalahan Orang Tua yang Paling Sering Terjadi

Niatnya baik, tapi efeknya bisa panjang.

1. Langsung Marah Besar

Teriakan dan hukuman membuat anak:

  • kaget
  • takut salah
  • mengaitkan seni dengan masalah

Padahal anak tidak berniat merusak.


2. Memberi Label Negatif

Kalimat seperti:

  • “bandel”
  • “nakal”
  • “tidak bisa diatur”

pelan-pelan membentuk citra diri anak. Ini yang berbahaya.


3. Melarang Menggambar Sama Sekali

Larangan total justru memutus saluran ekspresi anak.


Jadi, Harus Gimana Menyikapinya?

1. Tenang Dulu, Jangan Reaktif

Anak membaca emosi orang tua dengan cepat.
Nada tenang jauh lebih efektif daripada emosi.


2. Tegaskan Batas, Bukan Menyalahkan Anak

Gunakan kalimat seperti:

“Gambarnya seru, tapi tembok bukan tempat menggambar.”

Pesannya jelas: medianya yang salah, bukan anaknya.


3. Sediakan Alternatif yang Jelas

Larangan tanpa solusi bikin anak bingung.

Alternatif yang bisa Mom & Dad siapkan:

  • kertas besar ditempel di dinding
  • papan gambar atau whiteboard anak
  • buku gambar ukuran besar

Arahkan energinya, jangan dipadamkan.


4. Konsisten dengan Aturan Sederhana

Misalnya:

  • “Kalau mau gambar, ambil kertas ini.”
  • “Tembok hanya untuk pajangan.”

Kunci di konsistensi, bukan di kerasnya suara.


Apakah Anak yang Corat-coret Tembok Berbakat Seni?

Belum tentu, tapi ini indikator awal dorongan visual.

Perhatikan tanda-tanda ini:

  • anak menikmati menggambar lama
  • suka bercerita tentang gambarnya
  • tidak takut mencoba bentuk atau warna

Kalau iya, potensi ini layak diarahkan secara tepat.


Pentingnya Lingkungan yang Tepat untuk Anak Kreatif

Anak kreatif butuh:

  • ruang aman untuk salah
  • pendamping yang tidak menghakimi
  • pengenalan teknik secara bertahap

Bukan tekanan hasil, bukan tuntutan cepat bisa.

Pendekatan ini yang diterapkan di Eko Nugroho Art Class, di mana anak:

  • belajar menggambar tanpa dimarahi
  • dikenalkan teknik tanpa mematikan imajinasi
  • tetap bebas berekspresi
  • tidak dipaksa ikut lomba

Anak belajar bahwa seni itu aman dan menyenangkan.


Kalau Anak Terus Mengulang, Wajar Tidak?

Wajar. Anak belajar lewat pengulangan.

Yang penting:

  • respons orang tua konsisten
  • aturan jelas
  • alternatif selalu tersedia

Perubahan perilaku anak itu bertahap, bukan instan.


Cat Ulang Tembok Bisa, Kepercayaan Diri Anak Tidak

Tembok bisa dicat ulang.
Rasa percaya diri anak jauh lebih mahal.

Cara Mom & Dad menyikapi coretan hari ini bisa menentukan:

  • anak berani berekspresi
  • atau tumbuh dengan rasa takut salah

Penutup

Anak yang corat-coret tembok bukan anak nakal.
Ia sedang belajar mengekspresikan dunianya.

Tugas orang tua bukan mematikan kreativitas, tapi mengarahkan dengan tenang dan tepat.

Jika Mom & Dad ingin anak belajar seni di lingkungan yang aman, suportif, dan tidak penuh tekanan, Eko Nugroho Art Class adalah ruang belajar yang dirancang untuk itu.

👉 Daftarkan si kecil ke ENAC sekarang, dan jadikan liburan mereka lebih berwarna!

📍 Lokasi: Jl. Poncowala, Kragilan, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta
💬 Hubungi kami: WhatsApp ENAC
📘 Program: Kursus Menggambar Anak di Jogja

(0)