Tentang Eko Nugroho

Eko Nugroho portrait 2013

Eko Nugroho seorang seniman yang masa kecilnya banyak dihabiskan di lingkungan kampung Prawirodirjan. Sebuah perkampungan yang padat hunian dan dijejali oleh gang-gang kecil yang terletak di tengah pusat kota Yogyakarta. Masa kecil Eko Nugroho cukup usil karena ia mempunyai hobi menggambari tembok rumahnya sendiri atau tembok milik tetangga dengan batu bata merah. Sesekali juga ia sering menggoreskan tangannya untuk menggambari halaman rumah tetangga dengan batu di atas permukaan tanah. Boleh dibilang sejak kecil Eko Nugroho termasuk bandel namun sudah menunjukkan sisi kreatifnya.

Tumbuh menjadi seorang remaja kreatif yang semakin menunjukkan bakatnya namun waktu itu orang tuanya berasal dari latar belakang ekonomi yang kecil. Bapaknya bekerja sebagai seorang loper koran dan ibunya mengurus rumah tangga dan keempat adiknya. Dukungan orang tua saat itu ialah memotivasi untuk sekolah yang benar sukur sampai lulus kemudian dapat kerja agar dapat membantu ekonomi keluarga. Pesan inilah yang sangat merekam dalam pikiran Eko Nugroho. Meskipun orang tua kurang memberi dialog dalam hal pendidikan namun motivasinya sungguh memberikan ruang kebebasan kepada Eko Nugroho untuk memilih sekolah asal bertanggung jawab. Sampai akhirnya Eko Nugroho memutuskan pilihannya untuk masuk di Sekolah Menengah Seni Rupa dan lulus tahun 1997 kemudian melanjutkan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta lulus tahun 2006.

Awal proses kreatifnya hanya didasari karena Eko Nugroho sangat menyukai dan mencintai menggambar. Tidak pernah terbayangkan menjadi seorang seniman karena memang awalnya ia mempunyai cita-cita sebagai pilot. Pada suatu saat, ia merasa bahwa semakin mencintai kesenian karena kesenian bisa menjadi terapi bagi dirinya sendiri. Persoalan hidup seperti kebahagiaan, kesedihan, keindahan, kejujuran dan masih banyak lagi perasaan terdalam yang mampu keluar lewat berkesenian yang ia geluti.

Eko Nugroho memandang bahwa pendidikan seni rupa sangat penting. Ia menganggap dan menandai pendidikan mampu mengantar kita untuk mengetahui dasar, alasan, metode, makna dan manfaat berkesenian sebelum kita melangkah lebih jauh dalam berkarya. Menurut Eko Nugroho, “kesenian adalah simbol kehidupan manusia, dengan memahami kesenian maka kita akan menemukan arti dan simbol-simbol dalam kehidupan yang luas ini. Kesenian diciptakan dalam proses yang panjang, kesenian adalah sisi positif manusiawi. Kita bisa melacak sejarah, cerita, kejadian dan perubahan alam melalui kesenian”.

Dalam konteks pendidikan dan kebudayaan, Eko Nugroho berpendapat bahwa seniman adalah salah satu poros penting. Seniman menjadi salah satu pelaku dari pelestari simbol-simbol kehidupan dan pendidikan adalah salah satu cara ‘berbagi’ bagi kehidupan yang lebih baik. Ia meyakini jika kita bisa memaknai kehidupan maka ketuhanan akan selalu mengingatkan kita dalam hidup ini. Kesenian adalah ‘pelunak’ kekerasan dalam menghadapi kehidupan, dan seniman adalah sosok penghubung itu. Maka sudah sewajarnya seniman mampu menjadi penghubung kehidupan dengan berbagi ilmu keindahan dan kelembutan. Ia melihat pendidikan akan menjadi tujuan yang baik bagi bangsa ini jika kita berangkat dengan sikap optimis dan niat yang baik pula.

Beberapa persoalan pendidikan yang ada di bangsa inilah yang kemudian menjadi pemantik bagi Eko Nugroho. Ia mulai menaruh kepeduliannya dan kemauannya untuk mendirikan sekolah non formal tentang seni rupa. Ia tidak mau muluk-muluk. Ia hanya ingin berbuat baik karena diluar sana masih banyak anak-anak atau generasi yang kurang beruntung. Eko Nugroho ingin berbagi ilmu kesenian yang ia miliki. Ia berharap bahwa seni bisa menjadi pemicu kreativitas anak atau generasi untuk menghadapi masalah dan menyelesaikannya dengan ‘kreatif’ pula. KREATIF yang positif adalah senjata yang ampuh dalam menghadapi tantangan hidup dan jaman. Ia juga berusaha merangkul teman-teman seniman lainnya untuk ‘berbagi’ ilmu dan kecintaan mereka terhadap kesenian. Ia mengimani bahwa kalimat ‘berbagi itu indah’ adalah benar adanya.

Eko Nugroho sepakat bahwa seni dapat membangun karakter bangsa dan proses regenerasi perlu terjadi yaitu melalui pendidikan. Karena ketika kesenian kita sudah menjadi sorotan dunia maka kesenian yang cerdas dan kreatif yang perlu dikembangkan, agar memberikan dampak yang nyata pada masyarakat bangsa kita. Walaupun untuk menjawab semua ini butuh proses yang panjang tetapi untuk jangka pendeknya ia terus akan mencari tahu jawabannya dengan optimis bahwa seni mempunyai peranan penting dalam membentuk sekaligus membangun karakter sebuah bangsa.

“Tantangan dan hambatan akan selalu didepan, karena ini adalah bagian dari ‘cerita kehidupan kita’, dan tidak ada tantangan dan hambatan yang menjerumuskan, bahkan akan mengarahkan kita pada kesuksesan. Sejauh kita mau menghadapi dan menemukan solusi-solusinya. Saya masih sadar bahwa kita adalah ‘petarung-petarung’ dalam kehidupan kita. Bangsa yang menghargai Budaya dan Keseniannya adalah Bangsa yang Besar” pungkas Eko Nugroho.

Info lengkap Eko Nugroho di: ekonugroho.or.id

Share this: